Legenda Kesaktian Prabu Siliwangi dan Pasukan Ghoib

Legenda Kesaktian Prabu Siliwangi dan Pasukan Ghoib

Membicarakan tentang salah satu Raja Pajajaran dan Sang Prabu Siliwangi, seolah kita dibawa ke zaman di mana para raja yang sakti mandraguna bersinggasana.

Memang, rasa takjup kerap menjadi mewarnai pembaca maupun pendengar yang disuguhi legenda kesaktian para  raja yang diluar nalar.

Bagaimana tidak, sang prabu yang dikenal sakti mandraguna juga arif dan bijak ini, konon memiliki banyak pasukan tidak hanya dari kaum manusia, melainkan juga dari bangsa jin.

Di Jawa Barat legenda Prabu Siliwangi dan Maung Bodasnya pada kenyataannya saat ini seolah menasbihkan ikon ‘Urang Sunda’ dengan Pajajarannya.

Salah satu dari pasukan ghoib (jin) yang populer hingga saat ini yaitu pasukan ghoib macan putih (Maung Bodas/ bahasa Sunda). Oleh karena itu lah kita sering menemukan banyak gambar maupun lukisan dimana seekor macan putih yang selalu berada di sekitar atau disandingkan dengan Prabu Siliwangi.

Kali ini kita akan sedikit mengupas legenda macan putih atau ‘Maung Bodas’ tersebut dari beberapa sumber yang mendekati kebenaran.

baca juga artikel berikut ini : Kisah Mencekam di Balik Museum Brawijaya

Keberadaan macan putih sebagai pendamping Prabu Siliwangi, memang sangat kental tersiar di masyarakat, khususnya di tatar Sunda hingga saat ini. Namun siapa sangka, mahluk halus berwujud harimau putih itu bukanlah didapat dari hadiah ataupun adanya hubungan pertemanan.

Ternyata, keberadaan macan halus tersebut didapatkan usai sang prabu menaklukkannya dalam suatu pertempuran sengit. Diketahui, macan putih yang dimaksud ini adalah raja macan putih bernama Maung Bodas dari dunia ghaib yang memiliki ribuan tentara sejenisnya.

Kisah ini bermula dari ketika Prabu Siliwangi hendak beristirahat di Curug Sawer Majalengka, guna melepas lelah dalam pengembara’annya. Tanpa disangka, sekawanan macan putih ghoib menghadang langkah dan hendak menerkam sang prabu.

Namun, karena memang Siliwangi dikenal sangat sakti mandraguna, tidak satupun sekawanan macan itu yang dapat melukainya. Akan tetapi sebaliknya, banyak dari kawanan harimau ghoib itu yang tersungkur dan terluka.

baca juga artikel berikut ini : Fakta Menarik Rumah Peninggalan Tjong A Fie

Singkat cerita, sang raja dari kawanan macan putih tersebut maju dan terjadilah pertempuran sengit diantara keduanya. Lagi-lagi dengan kesaktiannya, Prabu Siliwangi berhasil mengalahkan sang raja ghoib macan putih.

Sejak saat itulah Raja Macan Putih dan seluruh pasukannya mengabdikan diri dan bersedia membantu Prabu Siliwangi sang penguasa tanah pasundan, dangan taruhan nyawanya.

Dari kesaktian Siliwangi yang pilih tanding ditambah adanya bantuan dunia ghaib inilah, sang Prabu Siliwangi dapat menjadi Raja tersohor di tanah Pasundan.

Dirasa telah banyak membantu kejayaan Pajajaran, Prabu Siliwangi kemudian, mengukirkan kepala harimau di gagang pusaka kujang miliknya dan menyuruh maung bodas ‘bersemayam’ di dalam gagang kujang itu.

Hal ini mungkin agar kemanapun sang prabu pergi sang macan putih ghoib itu selalu dekat dengannya, sebagaimana kujang pusaka yang selalu dibawanya.

baca juga artikel berikut ini : Angkernya Rumah Kosong Bumi Sani Permai

Mengenai senjata kujang, di masa lampau senjata ini merupakan sebuah alat pertanian yang biasa dipakai oleh penduduk masa itu. Karena keinginan Raja Kuda Lalean (raja sebelum Prabu Siliwangi) untuk menciptakan sebuah senjata pusaka yang mencirikan tanah pasundan.

Ia kemudian melakukan suatu tirakat Tapa Brata untuk mendapatkan petunjuk dari Sang Pencipta Alam Semesta. Alhasil didapatkanlah ilham yang kemudian Ia menyuruh seorang Empu untuk membuatkan sebuah senjata yang bercirikan kerajaannya tersebut. Di kemudian hari senjata itu disebut dengan julukan Kujang Pusaka.

Baru setelah Raja Pajajaran beralih pada tangan Prabu Siliwangi, beliau Prabu Siliwangi menyempurnakan kembali Kujang Pusaka menjadi seperti yang Anda kenal saat ini yaitu, pegangan kujang yang diukir membentuk kepala macan.

Ukiran kepala macan merupakan sebuah bentuk penghormatan Sang Prabu terhadap Macan Putih yang telah senantiasa menjadi pendampingnya untuk membantu menghadapi serangan bangsa-bangsa yang ingin menghancurkan Kerajaan Pajajaran.