3 Misteri Dan Mitos di Pantai Parangtritis

3 Misteri Dan Mitos di Pantai Parangtritis

Pantai Parangtritis merupakan pantai yang paling terkenal di Jogjakarta. Lokasinya yang hanya berjarak 27 kilometer dari kota Jogjakarta, menjadikan pantai ini termasuk wajib dikunjungi.

Ombaknya yang besar khas pantai di pesisir selatan, serta pemandangannya di waktu matahari tenggelam yang sangat romantis, menjadi daya Tarik pantai. Tak heran jika tempat ini sering digunakan sebagai lokasi prewedding ataupun sekedar lokasi rekreasi bersama keluarga.

Namun di balik keindahannya, ternyata pantai ini menyimpan banyak misteri yang bersifat mistis. Mulai dari misteri Kerajaan Kanjeng Ratu Kidul yang melegenda, sampai misteri ombak besarnya yang sering memakan korban.

Berikut ini adalah 3 Misteri Dan Mitos di Pantai Parangtritis, mari kita simak:

1. Gerbang Kerajaan Kanjeng Ratu Kidul

Kepercayaan mistis yang paling kuat di sekitar wilayah pantai Parangtritis adalah adanya sebuah kerajaan laut yang dipimpin oleh Kanjeng Ratu Kidul.

Konon, Kanjeng Ratu Kidul, atau ada juga yang menyebutnya sebagai Nyi Roro Kidul, adalah salah satu penguasa gaib yang mengitari Kesultanan Yogyakarta.

baca juga artikel berikut ini : Cerita Mistis Terowongan Kereta Api Paledang

Karena itu para Sultan harus tetap menjalin komunikasi dengan penguasa laut selatan ini, dan harus meminta restu Nyi Roro Kidul dalam melaksanakan setiap kegiatan, agar semua berjalan dengan aman dan tenteram.

Nah, pantai Parangtritis dipercaya sebagai pintu gerbang menuju kerajaan gaib di laut selatan. Karenanya, di pantai Parangtritis sering dilakukan tata cara adat agar sultan bisa berkomunikasi dengan kanjeng ratu gaib tersebut.

2. Tradisi Labuhan Yang Unik

Masih erat dengan kepercayaan adanya hubungan dengan kerajaan gaib di laut selatan, di pantai Parangtritis sering dilakukan upacara pemberian sesaji atau yang disebut dengan labuhan. Tradisi ini sendiri mulai dilakukan sejak jaman Sultan Hamengkubuwono I dan masih berlangsung hingga saat ini.

Menurut tradisi Kraton Kesultanan Yogyakarta, upacara labuhan dilakukan secara resmi dalam acara penobatan Sultan, peringatan hari Ulang Tahun Penobatan Sultan yang disebut “Tingalan Panjenengan” atau “Tingalan Dalem Panjenengan” atau “Tingalan Jumenengan” dan peringatan hari “windo” hari ulang tahun penobatan Sultan. “Windon” berarti setiap delapan tahun.

Selain dari ketiga rangka peristiwa di atas, upacara labuhan dapat juga diselenggarakan untuk memenuhi hajat tertentu dari Sri Sultan, misalnya apabila Sri Sultan menikahkan putera-puterinya.

Dengan tradisi ini, diharapkan agar kesejahteraan Sultan dan masyarakat di sekitar kesultanan tetap terjamin.

 

baca juga artikel berikut ini : Aura Mistis Gua Jepang di Klungkung Bali

3. Baju warna hijau dan pasukan Kanjeng Ratu Kidul

Kisah mistis lain berhubungan dengan larangan memakai baju hijau jika berkunjung ke pantai Parangtritis. Konon, Ratu Pantai Selatan sangat menyukai warna hijau. Dalam beberapa lukisan yang dibuat, sang ratu digambarkan mengenakan pakaian warna hijau juga.

Dan jika ada orang memakai baju hijau (utamanya pria), maka Kanjeng Ratu akan suka, dan kemungkinan besar akan “direkrut” untuk menjadi pegawainya. Dan tempat “perekrutan” favorit adalah di pantai Parangtritis ini.

Nah, itulah 3 Misteri Dan Mitos di Pantai Parangtritis. Semoga pembahasan kita kali ini dapat bermanfaat untuk kalian semua, terima kasih.

Mitos Batu Cinta di Pantai Parangkusumo

Mitos Batu Cinta di Pantai Parangkusumo

Pantai Parangkusumo di Bantul adalah sisi lain DI Yogyakarta yang menarik. Tidak hanya karena punya gumuk pasir, di sana juga ada batu keramat dengan mitos Ratu Kidul.

Di kawasan itu ada dua buah batu yang disebut Selo Gilang sebagai tempat pertemuan antara pendiri dinasti Mataram Panembahan Senopati dengan penguasa pantai selatan Kanjeng Ratu Kidul. Dua buah batu itu juga sering disebut dengan ‘Batu Cinta’.

Parangkusumo terletak tidak jauh dari kawasan Parangtritis. Tepatnya di sebelah barat atau sebelum masuk wilayah Pantai Parangtritis. Jarak dari Kota Yogyakarta menuju kawasan tersebut lebih kurang 30-an km.

Kawasan Parangkusumo lebih banyak dikenal sebagai tempat tujuan para peziarah terutama di bulan Sura berdasarkan kalender penanggalan Jawa. Sedangkan pada hari-hari biasa, kawasan itu ramai pengunjung pada malam Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon.

Di sekitar kawasan itu, ada banyak penjual bunga setaman atau bunga tabur, dupa dan kemenyan.

Selain Pantai Parangkusumo, sebuah tempat yang dikenal sakral yang banyak di datangi peziarah adalah Cepuri Parangkusumo. Tempat itu, ada mitos yang dipercaya sebagai tempat pertemuan antara pendiri dinasti Mataram, Danang Sutawijaya yang kemudian bergelar Panembahan Senopati dengan penguasa pantai selatan, Kanjeng Ratu Kidul.

baca juga artikel berikut ini : Sejarah Benteng Vredeburg yang Terkenal Angker

Di Cepuri Parangkusumo seluas lebih kurang 80 meter persegi yang dikelilingi tembok itu terdapat dua buah batu hitam besar.

Dua buah batu besar itu merupakan tempat bertemunya Panembahan Senopati saat bertapa dengan Kanjeng Ratu Kidul yang kemudian terjadi kontrak perkawinan politik antara keduanya.

Kontrak politik dengan mitos adanya perkawinan antara Panembahan Senopati dengan Ratu Kidul yang kemudian diteruskan oleh raja-raja dinasti Mataram terutama Kasultanan Yogyakarta sampai sekarang. Sampai sekarang Keraton Yogyakarta selalu menggelar prosesi labuhan setiap tahunnya.

“Cepuri Parangkusumo itu dipercaya sebagai pintu gerbang menuju Keraton Kidul,” ungkap Widodo salah satu juru kunci Cepuri Parangkusumo.

Dua buah batu gilang itu dipercaya sebagai tempat duduk bertemunya Panembahan Senopati dengan Kanjeng Ratu Kidul. Batu gilang yang berada di sisi utara adalah tempat duduk Panembahan Senopati.

Sedangkan batu gilang satunya lagi yang lebih kecil berada di selatannya adalah tempat duduk Ratu Kidul.

Para peziarah dari berbagai daerah bila datang ke tempat ini biasanya berdoa atau tirakat di depan batu gilang tersebut. Mereka setelah itu kemudian menaburkan bunga setaman di kedua batu tersebut.

baca juga artikel berikut ini : Cerita Horor Hutan Cifor Di Bogor

Menurutnya pada saat prosesi labuhan, setelah doa bersama di cepuri dilanjutkan dengan melarung berbagai sesaji ke pinggir Pantai Parangkusumo. Namun biasanya para peziarah cukup berdoa atau tirakat di cepuri saja.

“Paling ramai peziarah kalau malam Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon, hari biasa tidak terlalu ramai tapi juga banyak yang datang,” katanya.

Selain Cepuri Parangkusumo di belakangnya atau di sebelah utara terdapat hamparan batu karang warna kecoklatan yang memanjang seperti ular raksasa.

Batu karang yang dulunya adalah batuan aliran magma dari perut bumi itu sudah mengeras itu disebut Cepuri Parang Anom. Namun para peziarah lebih banyak berziarah di dua buah batu gilang yang ada di Cepuri Parangkusumo.