Misteri Kafe di Stasiun Kereta Api

Misteri Kafe di Stasiun Kereta ApiDara masih berdiri di ujung Jalan Melati, berteduh dari terpaan hujan di bawah kanopi di emperan sebuah toko elektronik. Ia menunggu taksi daring yang belum juga sampai. 

Ia merogoh ponselnya lagi dari saku celananya. Posisi taksi daring sebetulnya sudah cukup dekat. Tetapi nampaknya taksi itu terjebak kemacetan di jalan arteri. Ada garis merah tebal di peta pada aplikasi.

Naik Kereta Api

Dara sampai di stasiun kereta api. Ia terlambat hampir dua jam. Kereta api yang hendak ditumpanginya sudah berangkat dua jam lalu. Rea dan tiga temannya pasti sudah ngobrol-ngobrol di kursi kereta yang akan membawa mereka ke kota Malang, Jawa Timur.

Mereka memang berencana menghabiskan akhir pekan di sana. Dara tidak mengenal tiga teman Rea. Rea mengatakan ia akan mengenalkan tiga teman barunya yang katanya super asik.

Tetapi Dara tidak merasa kecewa karena ketinggalan kereta. Toh ia dapat naik kereta api lainnya. Ia kecewa dengan Bram. Pertengkaran siang tadi seharusnya tidak perlu terjadi.

Dara mendapatkan tiket kereta lainnya tetapi ia harus transit di Surabaya dulu dan berganti dengan kereta lainnya. Kereta api itu akan berangkat tiga jam lagi. Sungguh beruntung ia mendapatkan satu tiket di akhir pekan. Biasanya saban akhir pekan, seluruh kursi kereta api ludes.

Dara menuju area tunggu penumpang yang hampir kosong. Orang-orang yang tadi duduk di ruang itu kini sudah berada di dalam kereta. Matanya tertuju pada sebuah bangku panjang berwarna merah di sebelah deretan pot bunga.

Ia merogoh ponselnya dari saku celananya dan mulai mengetikkan pesan: Sampai mana Re? Tetapi pesan belum sampai ke ponsel Rea. Centang satu. Dara mengernyitkan dahinya. Tidak mungkin Rea mematikan ponselnya. Mungkin cuma blank spot. Ia memasukkan kembali ponselnya ke saku celananya.

Baca Juga : Film Horor yang Telah Merengget Nyawa

Tiba-tiba terbersit di pikiran Dara ingin mencoba video call dengan Rea. Buru-buru ia merogoh ponselnya dari saku celananya lagi. Sial, baterai ponselnya tinggal lima persen. Ia juga lupa membawa powerbank. Ia pun mengurungkan niatnya dan mematikan ponselnya.

ruang tunggu di Stasiun

Pandangannya menyisir sisi kanan dan kiri, mencari stop kontak di sekitar posisi duduknya. Tidak ada sama sekali. Stasiun ini juga tidak menyediakan charging station untuk umum. Ia menghela nafas panjang.

Setelah beberapa kali menyisir sekitar tempat ia duduk, pandangannya tertambat pada sebuah kafe di ujung sana yang nampak terang benderang. Biasanya di kafe terdapat stop kontak. Ia bisa charge ponselnya sambil ngopi cantik. Lagipula, ia butuh minuman hangat setelah kehujanan di jalan. Barangkali secangkir kopi hangat bisa meredakan pening di kepalanya.  


Sesampai di kafe itu ia tidak melihat seorang pun di sana, dara mengetukkan jarinya sekali ke bel di atas meja kasir. Ia melihat tayangan slaid di layar televisi LED di atas kasir. Wah, ada promo gratis cappuccino buat satu orang pemegang tiket kereta jurusan Surabaya yang beruntung. Lumayan nih, begitu kata Dara dalam hati.

Satu menit, dua menit, petugas kafe belum juga muncul. Yang membuat nampak aneh, tidak ada musik di kafe itu. Tidak lama Dara mendengar suara orang bercakap-cakap di belakang dirinya. Ketika ia menoleh ke belakang, ternyata di belakangnya sudah ada antrian cukup panjang. Dara pun mengetukkan jarinya ke bel sekali lagi.

Petugas pun datang, keluar dari balik kelambu berwarna merah yang menutupi sebuah pintu di sisi kanan kasir. Ia seorang wanita yang sangat cantik. Petugas itu berseragam cokelat. Baju atasan ketat berwarna cokelat peanut dan bawahan, entah celana panjang atau rok, berwarna brunette.

pelayan cafe di Stasiun Kereta Api

Begitu cantiknya petugas itu sampai-sampai Dara berpikir tidak seharusnya petugas wanita itu bekerja di kafe ini. Mungkin ia bisa menjadi artis sinetron terkenal. Ia sempat berpikir untuk menghubungi Chris, temannya yang seorang staf talent di sebuah rumah produksi terkenal, sebelum petugas wanita itu lebih dulu menyapanya.

“Hai Kak, pesan apakah?” kata petugas wanita itu. Suaranya terdengar centil kekanakan. “Itu cappuccino gratisannya masih ada kan? Saya mau ke Surabaya.” kata Dara. “Mmmm.. sebentar saya cek dulu ya Kak..” kata sang petugas. Gerakan tangannya bergerak cepat mengetukkan sesuatu di layar komputer di depannya. “Oh ya, statusnya masih tersedia. Kakak mau promo ini?” tanya sang petugas. “Ya. Ini tiket saya.” kata Dara seraya menunjukkan tiketnya kepada petugas itu.

“Mmmm… Kak Dara. Baiklah, tiket Kakak valid. Oh ya, selain satu cangkir cappuccino, promo juga termasuk setengah lusin donat. Gratis, Kak.” kata petugas itu dengan mata berbinar dan senyum yang, menurut Dara lebar dan agak aneh. Dara tertegun. Senyuman petugas itu mengingatkannya dengan senyuman beberapa calon penumpang di kursi tunggu tadi, begitu pikir Dara.

“Kakak mau?” tanya petugas itu tiba-tiba, membuyarkan pikiran Dara. “Eee.. Ya, saya mau ambil cappuccino dan donatnya. Gratis kan?” tanya Dara. Petugas itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya beberapa kali, tanda bahwa ia mengonfirmasinya.

“Silakan masuk lewat sini Kak untuk verifikasi. Ada staf khusus verifikasi di ruang sebelah.” kata si petugas itu. Dara merasa heran, mengapa ada verifikasi segala, di dalam ruangan lain pula. Ia merasa curiga. “Mari masuk lewat sini, Kak.” kata petugas itu sekali lagi. Kali ini sambil membuka kelambu merah itu.

Dara belum bergerak. Ia menatap ruangan di balik kelambu merah itu. Ruangan itu nampak gelap. Ia mengernyitkan dahinya. Mengapa ruangan itu gelap. Seharusnya ruangan itu terang. Ia menatap petugas itu, ragu. Tetapi petugas itu melebarkan senyumnya, kali ini ia mengangkat tangan kanannya, mempersilakan Dara supaya masuk ke ruangan itu.

Baca Juga : Beberapa Film Misteri Korea

Ia sudah bersiap akan beranjak dari tempatnya berdiri, tetapi sebuah wajah yang muncul berkelebat di dalam ruangan itu menghentikan langkahnya. Dara terkejut. Rea? Bukankah ia sedang di dalam kereta api? Sedang apa ia di sana. Wajah itu lalu hilang di kegelapan.

Sedetik kemudian wajah itu, wajah Rea, muncul kembali. Kali ini wajah itu nampak sedang berteriak. Tangan kanannya berusaha menggapai kelambu namun ia tidak mampu meraihnya. Sekejap kemudian menghilang.

Dara merasa gemetar. Tiba-tiba ia tidak dapat mengucapkan kata-kata. Ia juga tidak dapat bergerak. Kedua kakinya seakan beku, atau terpaku di lantai kafe.

“Silakan masuk ke sini, Kak..” kata petugas itu dengan senyuman semakin lebar. Tetapi Dara tidak dapat menngerakkan tubuhnya, pun mengucap sepatah kata. Ia akan membatalkan pesanannya saja dan lari dari kafe itu.

“Silakan masuk ke sini, Kak…” kata petugas itu sekali lagi. Suaranya terdengar berubah dari centil kekanakan menjadi lebih berat. Kepalanya berangsur berubah, kian membesar. Kulit wajahnya berwarna ungu gelap, hidungnya semakin panjang. Dagunya semakin meruncing ke bawah, matanya berwarna merah.

“Masuk kau ke sini, Dara… Dara…!!!” pekik petugas itu yang tiba-tiba berubah menjadi sesosok monster yang sangat menyeramkan. “Daraa… Daraaa… Daraaa…” pekik monster itu sekali lagi. Kepalanya semakin membesar. Hidungnya memanjang hingga tepat di depan ujung hidung Dara. Dara berusaha menggeliat tapi tidak bisa. Ia juga terlalu takut dengan apa yang ia lihat di hadapannya.

Kedua tangan monster itu kini memanjang. Tangan berukuran besar berkulit ungu gelap dan bersisik itu berhasil menggapai kedua lengan Dara dan mencengkeramnya erat. Tubuh Dara diguncang berkali-kali, membuat kepala Dara semakin terasa pening. Ia memejamkan matanya erat. Jantungnya berdetak cepat, nafasnya tersengal-sengal. Ia merasa tubuhnya diremas dengan kuatnya.

Tidak, ia tidak mau masuk. Dengan sekuat tenaga Dara berusaha untuk berontak. Sontak ia berteriak “Tidaaakkkk…Aku tidak mauuu…. Tidaakkk…”. “Dara, Dara, Dara..” suara itu masih saja meneriakkan namanya. Tubuhnya masih terguncang.

Tiba-tiba Dara berhasil membuka kelopak matanya. Ia terkejut ketika menatap wajah Bram di depannya. Rupanya tadi ia tertidur di kursi dan mimpi buruk. Beberapa orang menatap heran ke arah mereka.

“Oh, Dara sayangku… Syukurlah kamu selamat…” kata Bram sambil memeluk erat tubuh Dara. Dara diam saja, tidak menyambut pelukan Bram. Dara yang masih bingung usai bangun dari mimpi buruk merasa bingung dengan ucapan Bram.

“Ada kecelakaan Rea, di perlintasan Makmur. Sebuah truk besar yang mengangkut metanol menerjang palang kereta api. Truk meledak. Lokomotif dan beberapa gerbong di depan terbakar. Begitu dapat kabar itu dari medsos, aku buru-buru menelepon kamu tapi ponselmu tidak aktif. Kereta jam empat menuju Malang, itu kan kereta kalian. Lantas aku cepat-cepat ke sini…” jelas Bram.

Dara tercekat mendengar kabar itu . “Oh Tuhan, Rea…” suaranya lirih. Kedua telapak tangannya menutupi mulutnya.

“Ya, Dara.. Aku dapat info daftar nama korban di medsos, ada nama Rea di situ. Rea dan teman-temannya di gerbong satu, kan? Lokomotif dan gerbong itu terguling dan terbakar…” kata Bram.

“Oh, Bram… ” Dara kini memeluk tubuh Bram. Bram balas memeluknya. Cukup lama mereka saling berpelukan. Bram mengusap-usap punggung Dara, berusaha menenangkan Dara yang menangisi kepergian Rea.