Lima Perbedaan Vampir Barat dan Vampir Cina

Lima Perbedaan Vampir Barat dan Vampir Cina – Kamu pasti ga asing dengan sosok misterius ini. Peminum darah manusia, menakuti-nakuti, berjalan cepat sampai loncat-loncat. Namanya sama tapi ternyata berbeda loh.

Berikut Lima Perbedaan Vampir barat Dan Vampir Cina yang Gak Kamu Sadari

  1. Film

Film Vampir cina dan Vampir barat

Vampir bisa dilihat dibeberapa film horor atau fantasi, si wajah pucat penghisap darah manusia ini makin populer sejak munculnya novel berseri Twillight serta filmnya loh. Selain vampir, terdapat manusia srigala juga yang ga kalah keren. Keduanya berusaha mendapatkan cinta dari si cantik Bella Swan yang seorang manusia, selain masalah itu banyak adegan keren mengenai sesama vampir juga loh.

Selain Twillight, pada tahun 2000-an, jika kamu menonton film Cina yang sering tayang di televisi nasional, terdapat vampir yang hobinya lompat-lompat juga loh. Diceritakan kalau makhluk ini tiba-tiba bangkit dari tidur abadinya dan memburu orang-orang yang bernyawa. Di akhir cerita, makhluk ini akhirnya dapat ditidurkan kembali dengan jimat atau talisman yang ditempelkan didahinya.

  1. Kelemahan

Kelemahan Vampir

Keduanya sama-sama takut dengan sinar matahari. Vampir barat bahkan dapat dimusnahkan dengan cara dibakar langsung. Kalau dalam film-film Cina, makhluk ini juga dihadapai dengan banyak jimat dan doa-doa, serta takut dengan air suci dan beras yang telah didoakan.

Lucunya, vampir cina juga bisa dihindari dengan cara menutup menahan nafas karena dia mengejar apapun yang bernapas. Biasanya ia bisa dihadapi dengan ditidurkan kembali dengan cara memasang jimat di keningnya dan jangan sampai terlepas atau dia akan ‘hidup’ kembali

Baca Juga : Vampir China Lebih Serem dari Vampir Eropa

Vampir barat akan takut dengan orang yang memakai kalung salib dan bawang putih di leher. Mungkin biar ga bisa menggigit leher kamu karena rasa bawang putih yang ga enak banget untuk dimakan 😀 Selain itu ia bisa dimusnahkan dengan senjata peluru, tombak, panah dan senjata lainnya yang sudah dilapisi perak dengan disiram air suci

  1. Penampilan

Penampilan Vampir

Vampir cina punya penampilan yang tradisional dengan menggunakan pakaian resmi pegawai pemerintahan zaman Dinasti Qing yang dinamakan dengan Changshan. Pada abad ke-17, gaya berpakaian ini diwajibkan oleh bangsa Manchuria kepada pejabat-pejabat bangsa Han.

Changshan biasanya digunakan dalam pernikahan, pemotretan, dan acara-acara formal Tiongkok lainnya. Pakaian ini juga digunakan sebagai pakaian untuk jenazah yang akan dikubur loh.

Sedangkan vampir barat tampak lebih necis. Mereka memiliki wajah rupawan dengan tampilan yang fashionable. Sering hidup bersama manusia dan menyembunyikan identitasnya, bedanya mereka punya wajah yang lebih pucat dibanding manusia pada umumnya.

  1. Cara menyerang

Cara menyerang

Baik dari Eropa maupun Cina, keduanya sama-sama bisa menyerang manusia. Makhluk penghisap darah dari Eropa memiliki kekuatan dapat bergerak cepat, bisa terbang dan menggigit korbannya untuk menghisap darah. Sementara dari Cina, mereka menyerang manusia dengan cara melompat-lompat dengan kedua tangan diangkat ke depan. Terkadang ada pula yang dapat terbang loh.

  1. Asal mula

Asal mula Vampir

Vampir cina punya nama dengan panggilan Jiangshi/Geungsi dari Tiongkok dan Hong Kong. Vampir ini bisa disebut seperti zombie, bukan zombie seperti di film Walking Dead tapi lebih ke voodoo zombies. Menurut kepercayaan Tiongkok, salah satu penyebab arwah dari orang yang meninggal bisa marah dan menyimpan dendam adalah karena ga dikubur di kampung halaman mereka. Akhirnya, anggota keluarga yang meninggal tersebut menggunakan jasa pendeta Tao untuk membimbing mayat untuk pulang ke kampung halamannya.

Baca Juga : Film Horor Asia Paling Seram

Sedangkan kisah vampir barat banyak dalam berbagai versi, sebagian besar dibagi dengan dua bagian. Bagian pertama adalah kisah fantasi vampir dari sisi karangan fiksi seperti novel karangan Bram Stoker berjudul Dracula yang terbit pertama kali pada bulan Mei 1897.

Tokoh Dracula ini disinyalir terinspirasi oleh seorang pangeran Rumania bernama Vlad Tepes (1431 – 1476) yang berjuang melawan kekaisaran Ottoman. Bagian ke dua, berdasarkan keyakinan religius masyarakat, kesalahan dan tuduhan kepada orang-orang yang telah meninggal. Seperti saat mayat yang dikubur ga mengalami kerusakan dan pembusukan, malah saat makam dibongkar kondisi mayat masih utuh dengan darah yang mengalir dari mulut.